Untuk yang Selalu Menggemakan Perubahan Pendidikan di Indonesia


Perkenalkan aku Astri, satu dari sekian banyak lulusan sarjana pendidikan yang diharapkan dapat membawa perubahan pendidikan di negeri ini, negeri dengan kurikulum pendidikan yang berubah-ubah dan sering mengalami revisi. Negeri yang masih menjunjung tinggi pekerjaan bonafit yang cepat menghasilkan pundi-pundi. Lalu apa kabar dengan profesi kami yang katanya dibebankan paling depan untuk bisa mengubah dan mendidik mental penerus generasi, tetapi masih banyak yang memandang sebelah mata profesi ini.

Bagi kami para tenaga pendidik, guru bukan hanya sebuah profesi untuk mencari lembar rupiah, kami tidak hanya bekerja mengandalkan otak saja, tapi hati kami juga ikut terjun di dalamnya. Teruntuk kalian para orang tua, bukan hanya kalian yang menangis haru saat anak kalian bisa menggapai asanya, ketahuilah dibenak kami yang terdalam kami ikut mengamini setiap asa murid-murid kami dan mengusahakan agar kami bisa menjadi pengantar untuk mendekatkan asanya. Kami tidak haus terima kasih, bukan itu tujuannya, namun kami hanya meminta ketika anak kalian gagal mendapatkan apa yang menjadi asanya jangan mencari kambing hitam dengan menyalahkan sistem di sekolah beserta tenaga pendidiknya, ketahuilah itu sebuah tamparan terbesar bagi kami yang bekerja dengan hati. Kegagalan adalah sebuah proses, permintaan kami temani anak kalian ketika berproses, jangan bebankan gambaran masa depan yang kalian buat kepada mereka, biarkan cita-citanya tetap menjadi miliknya bukan cita-cita orang tua yang berusaha agar anak kalian bisa mewujudkannya, karena arti dari kata mengarahkan sangat berbeda jauh dengan arti kata memaksakan.

Kenyataan pahit yang harus saya akui, kita masih berada pada paradigma pendidikan yang menganggap orang yang cerdas dan pandai adalah orang yang menguasai alogaritma, hukum pascal dan kawan-kawannya. Pemenang olimpiade ilmu eksak diagungkan dan didambakan dimiliki setiap sekolah. Orang tua berbondong-bondong mengikutsertakan anaknya untuk mengikuti les matematika, fisika, dan ilmu pasti lainnya. Bahkan mereka yang ahli menulis puisi, ahli menggoreskan tangannya pada kanvas dan bermain dengan cat warna dipaksa berhenti dan diminta untuk menekuni deretan angka aljabar yang harus mereka kuasai, mereka yang memiliki bakat memainkan bola juga diminta beralih pandai menghitung percepatan benda. Ketahuilah bahwa kita tidak bisa membandingkan kemampuan Albert Einstein dengan kemampuan milik maestro lukis Pablo Picaso, mereka cerdas dibidang yang berbeda.


Untuk beberapa orang tua dan instansi sekolah yang rindu puja puji, jangan hancurkan kepakan sayap mereka dengan membatasi ruang geraknya, bebaskan bakat itu agar bisa mengepak tinggi. Kalau kalian bisa menghargai dan mengelu-elukan peraih medali olimpiade ilmu pasti lalu mengapa terkadang ingin membatasi apabila pilihan murid kami menjatuhkan pilihan berprestasi pada bidang seni. Bagi yang terus menggemakan adanya perubahan pendidikan di Indonesia, tengoklah diri kita sendiri sudahkan sudut pandang dan pemikiran kita berubah.


Saya hanya satu dari sekian ribu pendidik yang ingin bersuara, lewat tulisan ini saya berharap akan lebih banyak pemikiran dan sudut pandang yang terbuka, karena perubahan tidak bisa berjalan dengan baik apabila hanya ada satu kepala. Menang bukan tujuan utama saya, lewat tulisan ini saya berharap akan semakin banyak kepala dengan pemikiran yang sama untuk membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

 

 

Karya Tulis dari Astri Yulianti

Tema Pendidikan di Indonesia

Editor Tim Mata Indonesia


1 comment


  • Dimas Aji Sulistyo

    Sependapat dengan pemikiran penulis, karena menurut Saya Ing Ngarso belum sampai Sung Tuladha, Ing Madya belum mampu Mangun Karsa, Tut Wuri belum sepenuhnya Handayani. Kita hidup dimana kreativitas dikesampingkan dan nilailah yang menjadi tolak ukur kepintaran seseorang. Orang tua dan semuanya harus memahami bahwa esensi pendidikan yang sebenarnya bukan hanya sekadar untuk mencari nilai atau pengakuan kalo kita pinter. Nilai pada akhirnya hanya untuk bukti dan tolak ukur seberapa patuh kita mengikuti sistem pendidikan yang ada. Penerapan ilmu yang sesungguhnya justru dimulai ketika kita keluar sekolah dan berhadapan langsung dengan kehidupan nyata. #pendidikan #mataindonesia #fabercastell


Leave a comment