Membingkai Keberagaman Indonesia melalui Pendidikan Multikulturalisme


Indonesia dikenal dengan Bangsa yang majemuk, dimana semua suku, ras, agama dan budaya ada di Indoensia. Semua bersatu dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, perbedaan bukan menjadi penghalang tersatukannya sisi kemanusiaa dan itulah Indonesia. Negeri yang kaya raya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia dari sabang hingga merauke. Persatuan ditengah perbedaan menjadi ciri khas bangsa Indonesia sejak dahulu.

Akan tetapi, perbedaan yang ada bukan tak ayal berbagai gejolak menghampiri, karena permasalahan bangsa yang majemuk masyarakatnya ialah adanya permasalahan konflik komunal antar masyaarakat. Maka diperlukan suatu sistem untuk memperkenal kepada masyarakat dan generasi masa depan akan pentingnya menjaga kerukunan antar sesama dan selalu mendengungkan bahwa “keberagamana ialah nikmat” dan “keberagamana ialah kita”. John F. Kennedy pernah mengatakan bahwa, “Jika kita tidak bisa mengakhiri perbedaan-perbedaan kita, paling tidak kita dapat membuat dunia untuk menjadi tempat yang aman bagi keanekaragaman.”

Pendidikan merupakan salah satu hal vital dalam kehidupan manusia, selain membekalli akan softskill untuk bersaing di zaman global, pendidikkan juga mempunyai peran penting terhadap kepribadian seseorang. Melalui pendidikan seseorang dapat mengenal perbedaan antar sesama, moral, sikap dan kepribadian.

Melihat begitu urgent-nya pendidikan bagi keberlangsungan kehidupa dan peradaban manusia. Maka sudah seharusnya pendidikan di Indonesia harus menjadi pionir dalam mengkampanyekan pendidikan multikultural.

Implementasi Pendidikan Multikkultural

Ciri negara yang telah matang dalam menganut sistem demokrasi ialah negara yang mempunyai sistem yang menghargai keberagaman. Pendidikan di Indoensia dari tahun-tahun mengalami perubahan dalam kurikulum yang diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Maksud dari pergantian kurikulum tersebut ialah selain untuk menyeimbangkan sesuai kondisi zaman juga bisa seimbang dengan keadaan peserta didik yang ada pada era tersebut.

Nilai keberagaman dalam pancasila dan Bhineka Tunggal Ika selain sebagai pedoman hidup juga harus di implementasikan dalam pendidikan agar penanaman tentang keberagaman dapat diteruskan oleh generasi muda. Stigma bahwa “Istilah aku, kamu, mereka, segera di jauhkan dari paradigma peserta didik” melalui pendidikan multikultural dalam pembelajaran dimana selain mendapatkan ilmu umum peserta didik juga mempunyai core value dari ilmu tersebut tentang pentingnya keberagaman.

Melihat realita dilapangan, bahwa konsep dari pendidikan multikltural sudah banyak yang mengetahui akan tetapi dalam pelaksanaan masih dalam bekutat pada hal “aku dan kamu” konsep “kami dan kita” masih belum dipraktekkan begitu masif di sekolah-sekolah.

Maka dari itu, diperlukan pemecahan dari permasalahan tersebut agar pendidikan multikutural bisa menjadi problem solver atas permasalahan konflik yang ada dan bisa menjembatani keberagaman di Indonesia melalui lembaga pendidikan.

a. Secara Internal

Semua kalangan sudah bersepakat bahwa keberagaman di Indonesia sudah final dan Bhineka Tunggal Ika sudah akhir dari solusi terhadap kemajemukan. Kemajemukan bangsa Indonesia sendiri dapat dilihat dari dua persepektif, secara horizontal dan vertikal. Perspektif secara horizontal terjadi akibat perbedaan etnis, budaya, agama, geografi, suku, bahasa dan daerah. Sedangkan secara vertikal perbedaan masyarakat Indonesia dilihat dari pendidikan, ekonomi, pekerjaan dan tingkat budayanya.

Dari kedua perspektif tersebut pendidikan multikultural harus bisa menjembataninya dan bisa memiinimalisir angka intolerasi didalam menyikapi perbedaan tersebut.


b. Secara Eksternal

Melihat fakta dilapangan, bahwa dalam implementasi pendidikan multikultural masih jauh dari harapan, alasan belum terealisasi secara maksimal bermacam-maca. Melihat kurikulum yang berganti-ganti menjadi salah satu faktor penghambat terealisasinya pendidikan multikultural. Kemudian aspek cakupan dalam pendidikan multikultural hanya dalam ruang lingkup pendidikan formal saja, pendidikan selain itu belum dikaji secara maksimal dan berjkelanjutan.


Dengan disebarkannya pendidikan multikultural diberbagai pendidikan yang ada, maka konsekuensi dari tindakan preventif terhadap konflik-konflik yang mengatasnamakan ras, suku maupun agama akan secara perlahan teratasi. karena akar dari tindakan tersebut ialah belum matangnya nillai-nilai kebersamaan di tengah perbedaan.



DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, Rustam, Pendidikan Multikultural: Pengertian, Prinsip, dan Relevansinya

dengan Tujuan Pendidikan Islam, Jurnal Addin, Vol. 7, No. 1, Februari 2013

Rahim, Signifikansi Pendidikan Multicultural Terhadap Kelompok

Minoritas,Rahmawati, Signifikansi Pendidikan Multicultural Terhadap

Kelompok Minoritas, Jurnal Analisis, Volume XII, Nomor 1, Juni 2012

 

 

Karya tulis oleh Nur Azis Hidayahtulloh

Tema Pendidikan di Indonesia

Editor : Tim Mata Indonesia


14 comments


  • WNxcYQzFtwAJBIp

    cEGkQjoJFDZNfSm


  • AbRaUPWqOmukKrF

    mVijhOAnyvdwDotu


  • HIjibsmArke

    NzsZxGrec


  • IGLtEHFUolSQWdR

    ANSqpkgmIRDuZeB


  • QfjsTUkJGM

    nYkRbjhOxBWv


Leave a comment