Potret Nyata Nilai-nilai Sejarah dan Pribadi Luhur dalam Jaranan


          Dentang gong pertama terdengar, penonton yang masih ramai perlahan terdiam. Iringan gong, kenong, slompret, dan kendang mulai rancak, namun panggung masih kosong. Jantungku berdegup kencang. Beberapa detik lagi aku harus masuk ke panggung. Kuhitung suara neng nong ning gong dan suara hook yaa dari penabuh gamelan agar aku tidak terlambat memasuki panggung. Tepat pada suara gong kelima kujejakkan kaki diatas panggung. Dari sudut pandang penonton tampaklah seorang laki-laki dengan kaos bergaris-garis hitam merah sedang meliku-liuk sendiri di atas panggung sambil menaiki Jaran Kepang. Jaran Kepang adalah kuda buatan yang disusun dari ayaman bambu dengan hiasan rumbai-rumbai dari tali rafia atau bulu kambing yang diibaratkan seperti rambut kuda.

         Aku menaiki Jaran Kepang pertama seperti orang mabuk yang sedang menari, terkadang terjatuh lalu berdiri lagi dengan posisi seperti sedang menaiki kuda yang kelimpungan dan limbung. Setelah beberapa gerakan, Jaran Kepang itu kuletakkan di tengah panggung. Aku kembali ke belakang panggung dengan tarian lalu kembali ke panggung dengan membawa satu Jaran Kepang lagi. Kali ini aku menaiki kuda dengan tegap dan gagah. Sesekali kepala kuda itu kukibaskan ke kanan dan kiri dengan anggun. Lalu seperti sebelumnya, kuletakkan Jaran Kepang itu disamping yang sebelumnya. Setelah itu kuambil Jaran Kepang yang ketiga. Kali ini Aku membawa Jaran Kepang dengan berlari-lari di atas panggung sambil berjingkrak-jingkrak. Jika dilihat seperti sedang membawa kuda yang sedang mengamuk dan sangat sulit dikendalikan. Tak lama kemudian Jaran Kepang ketiga itu juga tergeletak di sebelah dua kawannya. Jaran Kepang yang keempat masuk ke panggung dengan gerakan badan terlihat seperti sedang menaiki kuda yang anggun namun pesolek. Dalam beberapa gerakannya terlihat kuda ini ingin sekali memamerkan keindahan tubuh yang Ia banggakan. Jaran Kepang yang keempat ini akhirnya juga diletakkan di sebelah kawan-kawannya. Aku keluar dari panggung dengan sebuah tarian penutup dan setelah itu penonton kembali melihat panggung yang kosong.

          Keringat mengucur deras dari dahi dan bagian tubuhku yang lain. Tugasku mengantar Jaran Kepang ke dalam panggung baru saja selesai. Walaupun ada rasa canggung pada awalnya, namun akhirnya dapat kuatasi. Dalam pentas seni malam ini kontingenku menampilkan Seni Tari Jaranan dan aku mendapatkan peran sebagai Pekathik dalam bahasa jawa. Arti dari Pekathik dalam bahasa Indonesia adalah pengasuh atau perawat kuda. Dalam Jaranan, peran Pekathik adalah membawa Jaran Kepang ke dalam panggung dengan gerak dan dentang gamelan yang berbeda pada tiap Jaran Kepang yang dibawa. Menurut pelatih saya keempat Jaran Kepang (atau terkadang lebih dari empat) itu melambang sifat manusia yang berbeda-beda. Ada yang bersifat kesatria, sombong, menuruti hawa nafsu, pemarah atau sukar mengendalikan emosi, serta ada pula yang pemalu namun sebenarnya mampu menghadapi banyak masalah dengan baik. Karena hal itu maka seorang Pekathik dituntut untuk mampu membawakan peran Jaran Kepang yang dibawa agar semirip mungkin dengan sifat kuda yang dikendarai.

Lima Kesatria Jaranan

          Selanjutnya suara kendang dan slompret berubah menjadi lebih tenang, namun tetap bertenaga. Tak lama kemudian muncul lima orang dengan pakaian seperti Kesatria jaman Majapahit dengan Jamangan atau hiasan kepala, baju kuning emas kombinasi merah dengan ukiran batik berwarna emas, serta celana berhias Jarik atau kain bermotif batik yang dililitkan di bagian pinggang. Para Kesatria ini tidak memakai alas kaki, namun tetap gagah. Keempat orang ini adalah Kak Zulfa, Awan, Bagus, dan Rio. Mereka adalah kakak dan kawan-kawanku yang tentunya sudah lebih luwes atau mahir di kesenian Jaranan ini. Keempat orang ini memasuki panggung dengan gerak tari yang serempak dan seiring dengan alunan kendang. Keempatnya bergerak menuju tempat dimana Jaran Kepang itu diletakkan oleh Pekathik di awal tadi. Lalu dengan gerakan menunduk yang anggun dan kompak mereka mengambil Jaran Kepang itu dan mengangkatnya ke atas. Dengan perlahan tabuhan kendang semakin cepat dan keempat kawanku itu menari dengan gerakan yang dinamis dan indah senada dengan musik pengiring. Menurut cerita, gerakan empat kesatria ini sejarahnya adalah iring-iringan para pasukan berkuda yang mengantarkan Pujangganom dan Klana Sewandono yang akan melamar Dewi Songgo Langit di Kediri.

          Di tengah tarian yang indah itu, tiba-tiba muncul dua sosok bertopeng hewan yang mengganggu mereka berempat. Namun dengan cekatan keempat penunggang kuda ini mengerumuni dua sosok ini. Kedua sosok ini adalah Singo Barong dan Singo Kumbang. Dalam sejarah Jaranan, Singo Barong juga ingin melamar Dewi Songgo Langit yang dapat berubah wujud menjadi singa, sedangkan Singo Kumbang adalah pengawal dari Singo Barong yang dapat berubah menjadi Celeng atau Babi Hutan. Gerakan Tarian selanjutnya menggambarkan pertempuran empat kesatria melawan Singo Barong dan Singo Kumbang. Kedua lawan itu bergerak lincah dan energik, bahkan sesekali melakukan gerak salto dan kayang. Setelah “pertempuran sengit”, akhirnya Singo Barong dan Singo Kumbang takluk. Hal ini ditandai dengan gerakan tari mereka yang mengikuti gerakan tari keempat kesatria yang telah mengalahkan mereka. Ini adalah simbol bahwa kebaikan akan selalu dapat mengalahkan kejahatan. Tarian ini ditutup dengan gerakan Singo Barong dan Singo Kumbang yang meliuk-liuk di panggung. Sementara itu di samping kanan dan kirinya empat kesatria penunggang kuda bergerak dengan anggun mengikuti alunan kendang.

Grup Penari Jaranan Kami saat Perkemahan Pramuka Tingkat Daerah

          Ketika musik berhenti, rentetan tepuk tangan penonton sangat riuh. Namun segera berubah menjadi teriakan karena tercengang ketika dua orang kawanku yang memakai topeng Singo Barong dan Singo Kumbang melepaskan topengnya. Nampaknya tidak ada yang menyangka jika kedua orang yang bergerak lincah itu adalah wanita cantik bernama Sylvia dan Vina. Aku dan kawan-kawanku tertawa lepas melihat ekspresi penonton. Setelah menunduk untuk mengucapkan terima kasih, kami menuruni panggung dengan rasa puas dan lega.

          Cerita diatas adalah hal yang benar-benar saya alami ketika mengikuti Perkemahan Pramuka Tingkat Daerah. Menurut saya, mempelajari dan melestarikan budaya Indonesia perlu kita lakukan. Salah satu yang saya rasakan adalah kesenian Jaranan. Selain menguras banyak tenaga, perlu adanya disiplin tinggi untuk mempelajari kesenian ini. Bahkan di sela-sela latihan, kami diberi pengetahuan tentang filosofi dan pelajaran hidup yang dapat diambil dari kesenian ini. Hal ini tentu sangat berguna untuk kita sebagai penerus bangsa dalam menjalankan nilai-nilai luhur tersebut. Saya yakin, hal ini tidak hanya ada pada kesenian Jaranan, namun juga pada Kesenian-kesenian yang lain yang ada di Indonesia.

          Mungkin karya saya tidak sebaik kiriman dari kontestan lain. Namun saya berusaha menjelaskan serunya mempelajari budaya Indonesia dengan kalimat naratif sehingga harapannya pembaca lebih tertarik dan terbawa suasana dalam tiap paragraf yang ada.

          Sayembara yang dibuat oleh Mata Indonesia dan Faber Castell ini tentu adalah salah satu wujud nyata untuk membuka wawasan kita lebih jauh tentang budaya tari yang ada di Nusantara. Faber Castell tentu bukan nama baru baik di Indonesia maupun hampir di seluruh dunia. Kualitas alat tulis dari Faber Castell saya rasakan sendiri lebih baik dibandingkan merek lain. Di sisi lain Mata Indonesia adalah salah satu wadah untuk beragam informasi terkait apa saja yang harusnya lebih kita ketahui tentang Indonesia. Tentu hal ini tak bisa saya lewatkan sebagai kesempatan agar tulisan saya dibaca banyak orang dan mendapatkan kaus dari Mata Indonesia serta hadiah dari Faber Castell.

 

Karya tulis dari Syamsu Ridzal Indra Hadi (Universitas Brawijaya)

Tema Kebudayaan Tari Indonesia

Dukung artikel ini dengan memberikan komentar terbaik yang di akhiri dengan hashtag #tarijaranan #lombamataindonesia2017

Contoh : "Artikelnya sangat menarik dan semoga sukses! #tarijaranan #lombamataindonesia2017"

Satu komentar terbaik, akan mendapatkan kaus keren Mata Indonesia. Selamat membaca!

Editor : Tim Mata Indonesia


1 comment


  • Tika Dewi Sri

    Keeeereeeeeeen…mengangkat tema budaya, yang mungkin bagi anak muda jaman sekarang dianggap ‘kuno’ tapi sang penulis berhasil membuat muatan budaya yang ada dalam tulisannya terkesan tidak kuno.
    Di tengah derasnya arus budaya luar negeri yang masuk ke Indonesia, anak muda seperti penulis mau meluangkan waktu untuk menjaga dan melestarikan budaya salah satunya melalui tulisan merupakan hal yang luar biasa.
    Hidup budaya Indonesia
    Hidup tarian Indonesia
    #tarijaranan #lombamataindonesia2017


Leave a comment