Mengenal Kembali Kebudayaan Tari Indang


          Kebudayaan merupakan sesuatu yang hidup, diakui, dan dipatuhi dalam masyarakat. Kebudayaan bisa bersifat tersirat ataupun tersurat. Menurut etimologi, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi dan akal). Dengan kata lain, kita bisa mengartikan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari pemikiran masyarakat. Oleh karena itu, kebudayaan mencakup banyak hal berupa pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, dan adat istiadat (Edward B. Taylor).

          Karena kebudayaan merupakan sesuatu yang diakui oleh masyarakat, maka kebudayaan diwariskan kepada generasi berikutnya, baik secara formal ataupun informal. Anggota masyarakat yang lebih muda mempelajari beberapa kebudayaan di sekolah. Hal inilah yang saya alami ketika duduk di taman kanak-kanak. Sudah merupakan hal yang lumrah bagi siswa taman kanak-kanak untuk menampilkan suatu pertunjukan ketika mereka diwisuda atau dikenal dengan sebutan pesta perpisahan. Untuk itu, kami pun dilatih untuk menampilkan suatu tarian ataupun nyanyian berdasarkan keahlian kami. Saat itu, saya dipilih untuk menampilkan tari Indang. Saya tidak yakin mengingat dengan benar bagaimana penampilan saya saat itu tapi saya merasa bahwa kami melakukan yang terbaik.

          Sebenarnya, saya pernah menampilkan beberapa tarian tradisional Indonesia, terutama yang berasal dari Sumatera Barat. Menurut saya, semua tarian memiliki keunikan tersendiri. Tapi bagi saya pribadi, tari Indang yang saya kenal dengan tari Badindin memiliki kesan yang mendalam. Setelah itupun, saya beberapa kali menampilkan tari Indang saat di sekolah dasar (SD). Ketika di SD, siswa kelas satu sampai lima yang harus ikut berpartisipasi pada perpisahan kelas enam. Ketika saya duduk di kelas tiga SD, saya diminta untuk menarikan tari Indang. Saya sangat bersemangat ketika menjalani latihan setiap sepulang sekolah selama beberapa bulan. Namun pada hari H penampilan, saya merasa sedih karena kostum yang saya kenakan menyerupai pakaian adat laki-laki. Di sisi lain, teman-teman saya yang menarikan tari Pasambahan tampak anggun dalam balutan baju kurung, songket, dan sunting. Mungkin hal itu juga yang membuat saya tidak bisa melupakan tari Indang.

          Beberapa tahun setelah itu, saya baru mengetahui kalau sebenarnya pada awalnya tari Indang memang dibawakan oleh penari laki-laki. Ketika melakukan tarian ada beberapa gerakan bersila. Setelah dipikir-pikir tidak mungkin saya mengenakan songket ataupun baju kurung. Nama tari Indang sendiri berasal dari alat yang digunakan sebagai pengiring tarian tersebut. Indang merupakan instrumen musik perkusi yang menyerupai rebana namun ukurannya lebih kecil.

            Sebenarnya, hal yang paling menarik bagi saya adalah lirik-lirik dari lagu yang mengiringi tari tersebut. Tari Indang juga dikenal sebagai tari Badindin. Badindin merupakan judul lagu pengiring tari Indang. Lagu tersebut berupa rangkaian pantun yang dimulai dengan salam. Saat pantun pertama itu dinyanyikan, para penari melakukan gerakan memberi salam pada penonton. Selanjutnya pantun mengenai tujuan tari Indang untuk menghibur khalayak yang menyaksikan tarian tersebut didendangkan. Dalam lagu tersebut, rangkaian pantun menyampaikan beberapa nilai yang harus diketahui dan diamalkan diantaranya:

Baralah tinggi oi si buruang tabang
Panek malayok ka hinggok juo
Banyak ragamnyo oi budayo datang
Budayo kito kambangkan juo

 

           Dalam pantun ini disampaikan bahwa walaupun ada banyak budaya yang berdatangan, kita tetap harus mengembankan budaya kita. Pantun ini dilanjutkan dengan pantun berikutnya:

Dari lah Solok nak ka Salayo
Urang lah Guguak (ondeh) pai ka pakan
Ambiak nan elok jadi pusako
Sado nan buruak (ondeh) kito pelokkan

 

           Pantun ini menjelaskan bahwa ketika kita harus mengutamakan pengembangan budaya kita sendiri, bukan berarti kita harus menolak budaya asing mentah-mentah. Kita bisa mempelajari dan mengamalkan budaya yang baik. Jikalau ada budaya yang tidak baik ataupun tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita pahami, kita harus menyesuaikan budaya baru tersebut agar sesuai dengan nilai nilai kita.

          Lagu pengiring tari indang ini mengajarkan saya bahwa saya memiliki kewajiban untuk tetap mengembangkan kebudayaan yang saya telah saya warisi dari guru-guru dan kerabat saya. Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, kebudayaan merupakan sesuatu yang berlaku di masyarakat. Ketika generasi yang lebih muda tidak melestarikan kebudayaan yang telah diwariskan, kebudayaan tersebut akan terputus dan akan terbentuk kebudayaan baru yang bisa jadi bertentangan dengan nilai luhur bangsa ini.  

          Pada dasarnya kebudayaan yang merupakan hasil pemikiran generasi sebelumnya merupakan jati diri dan sarana belajar bagi generasi selanjutnya. Sebelum adanya era globalisasi, setiap masyarakat yang kala itu terpisah jarak dan waktu megembangkan karakter tersendiri sesuai dengan nilai-nilai yang mereka pahami. Ketika terjadi globalisasi, proses asimilasi budaya tidak dapat dielakkan. Hal yang sangat disayangkan adalah ketika globalisasi membuat pikiran masyarakat sempit dalam arti hanya mempercayai kebenaran universal ataupun global. Ketika hal itu terjadi,  kita mulai merupakan jati diri kita, kita membatasi jati diri kita sebagai bagian dari masyarakat global. Karenanya dengan mempertahankan kebudayaan, kita tengah membertahankan jati diri kita.

          Alasan kedua kenapa kita harus melestarikan budaya adalah kebudayaan merupakan sarana belajar. Dengan mempelajari kebudayaan, kita bisa belajar nilai-nilai leluhur kita. Nilai yang harus kita pahami dan harus terapkan dalam hidup. Nilai yang memang seharusnya dipertahankan. Dari tari Indang, saya belajar nilai kerjasama dan harmonisasi. Dari lagu pengiringnya, saya mengetahui nilai untuk mempertahakan kebudayaan sendiri.

           Terakhir, saya ingin menyisipkan sebuah kutipan anonimitas, “The Way to Love anything is to Realize that It May be Lost” (salah satu cara untuk mencintai sesuatu adalah dengan menyadari bahwa ia bisa hilang). Kita mengakui bahwa kita mencintai kebudayaan kita. Maka hendaknya kita tidak hanya berhenti pada pengakuan, kita juga harus melakukan tindakan. Seperti cinta yang harus diungkapkan, rasa cinta itupun harus ditunjukkan dengan mempelajari dan mengajarkan kebudayaan kita pada keluarga dan masyarakat di lingkungan kita. 

          Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman, kenangan dan pelajaran yang saya dapatkan dari tari indang. Semenjak dini, saya sangat suka membaca dan menulis. Saya sangat menyukai cerita fiksi namun seiring pertambahan usia, saya mulai tertarik pada tulisan non fiksi. Karena itu saya menjawab tantangan dari Mata Indonesia untuk menulis sebuah tulisan mengenai tarian. Saya berharap tulisan saya ini bisa menginspirasi siapapun yang tertarik untuk kembali mempelajari kebudayaan negeri ini.

 

Karya tulis dari Nurul Isra Fauziah (LB LIA Bandung)

Tema Kebudayaan Tari Indonesia

Dukung artikel ini dengan memberikan komentar terbaik yang di akhiri dengan hashtag #tariindang #lombamataindonesia2017

Contoh : "Artikelnya sangat menarik dan semoga sukses! #tariindang #lombamataindonesia2017"

Satu komentar terbaik, akan mendapatkan kaus keren Mata Indonesia. Selamat membaca!

Editor : Tim Mata Indonesia


Leave a comment